Ini pasar Turi Surabaya. Enggak ada jendelanya...bedeng dari kayu atau triplek saja dinding bangunan pasar ini.
Padahal Surabaya berhawa panas...
Logikanya, di pasar banyak dagangan, penjual, dan pembeli. Apa enggak sumpek, ya di dalam?
Ngumpulin tulisan di Intisari, sama ngoceh sendiri...
Ini pasar Turi Surabaya. Enggak ada jendelanya...bedeng dari kayu atau triplek saja dinding bangunan pasar ini.
Padahal Surabaya berhawa panas...
Logikanya, di pasar banyak dagangan, penjual, dan pembeli. Apa enggak sumpek, ya di dalam?
Jika sedang ada urusan bisnis atau keperluan di luar kota, biasanya teman, saudara, atau bahkan pacar minta dibawakan oleh-oleh. Jika kali ini akan bertugas atau ada urusan dan baru pertama kali ke Surabaya, oleh-oleh seperti apa yang bisa dibawa, ya?
Kalau bingung mencari oleh-oleh, cobalah mampir ke jalan Kaliasin atau sering disebut kawasan Pasar Genteng. Di sepanjang jalan ini akan ditemui beberapa toko yang menjual berbagai macam jenis oleh-oleh khas Jawa Timur. Salah satunya yang termasuk legendaris adalah toko Bhek Putra. Di sini menjual segala macam makanan diantaranya kerupuk, kripik, dodol, abon, ikan asin, petis, hingga terasi. Jumlahnya sekitar puluhan jenis. Yang paling banyak menjadi incaran para pelanggan di toko ini biasanya macam-macam jenis makanan ringan seperti kerupuk atau keripik dari melinjo, kentang, dan hasil laut. Walaupun jenis makanan lain juga jadi sasaran pelanggan. Diantaranya bandeng asap,bandeng otak-otak, bandeng presto, keripik buah, ikan asin mentah, kerupuk udang, petis, sampai terasi.
Nama toko Bhek Putra sebenarnya diambil dari nama leluhur pemilik toko Tan Siong Bhek. Sekarang bernama toko Bhek (tanpa Putra), sudah berdiri sejak sebelum jaman kemerdekaan. Kedua toko Bhek ini sama-sama menjual oleh-oleh. “Toko Bhek jaman dulu, jenis barang yang dijual bukan oleh-oleh seperti sekarang. Dulu kakek saya berjualan hasil bumi, seperti kacang hijau, kacang tanah, juga beras,” ujar Bambang Sutejo pemilik toko Bhek Putra. Kemudian di tahun 1949 barulah mulai dirintis jenis komoditi yang seperti dijual sekarang. Ibunda Bambang Sutejo yaitu Tan Siong Nio anaknya Bhek, pintar membuat kerupuk udang, juga sambal goreng. Ketika dicoba dijual rupanya laku dan laris. Dalam perjalanan waktu akhirnya berkembang menjadi toko oleh-oleh seperti sekarang.
Ada yang lain di Toko Bhek Putra yang sudah berdiri selama 16 tahun ini. Bambang Sutejo pemilik toko berani menjamin semua oleh-oleh yang dijualnya enak. Bahkan ada beberapa jenis makanan yang boleh langsung dicoba ditempat. Terutama yang buatan sendiri atau bermerek Bhek Putra, misalnya rambak kerupuk kulit, lorjuk goreng, bandeng asap, dan kerupuk udang. “ Kalau tidak enak boleh dikembalikan,”tandasnya. Ada cerita sedikit dibalik keyakinan Bambang alias <i>jeliteng</i> (dari bahasa Jawa yang artinya si hitam) yang sebenarnya tidak hitam ini. Sebenarnya yang dijual di sini banyak juga yang sifatnya titip jual. Tetapi Bambang punya syarat agar bisa muncul di etalase tokonya. Kualitas adalah syarat utamanya, biar sedikit asalkan enak. “Karena saya punya tim pencicip 4 orang termasuk saya. Kalau memang enak kita mau menjualkan. Jika salah satu bilang enggak enak, ya enggak jadi,”jelasnya.
Beberapa jenis makanan andalan di sini ada lorjuk goreng. Sejenis kerang-kerangan laut yang kini sudah jarang ditemui. Lorjuk didatangkan dari Madura, di sini kemudian digoreng dan dibumbui. Rasanya gurih, cocok juga buat lauk makan. Sekilo lorjuk goreng dihargai Rp320.000. Mengapa mahal, karena lorjuk sekarang sulit dicari dan hanya ada di Madura. Dulunya lorjuk mudah ditemui, di pantai Kenjeran Surabaya juga banyak. Tetapi sekarang tidak ada lagi, karena alamnya sudah rusak, lorjuk pun hilang. Karena lorjuk ini hidup di lumpur pantai. Saat air laut surut, biasanya lorjuk akan keluar.
Sedikit cerita mengenai nelayan pemanen lorjuk. Mereka dari pagi sampai sore secara tradisional mencari lorjuk maksimal hanya bisa terkumpul 2-4 kg saja. Tetapi ada yang bisa dapat banyak dan cepat, caranya dengan memberi gamping (kapur). Karena panas kapur, lorjuk akan keluar semua jadi gampang mengambilnya. Tapi mereka lupa kalau bibit lorjuk ikut mati. Hasilnya, tidak ada lorjuk lagi. Itulah yang terjadi di Kenjeran beberapa waktu lalu.
Makanan unik lain ada Kimo yaitu kerang putih yang besar atau bekicot laut, dipotong kecil dijemur kemudian digoreng, harganya Rp300.000 satu kg. Simping udang Rp200ribu. Teri nasi Rp120 ribu. Semuanya tadi untuk ukuran satu kg.”Kadang saya sendiri heran, kok segitu ya harganya. Ini karena pasokan sedikit, barangnya mulai punah. Padahal peminatnya banyak,”ujar Bambang geleng-geleng tak percaya.
Toko Bhek Putra buka dari jam 06.30-20.30. Tidak pernah libur. Bhek juga melayani jasa kiriman oleh-oleh. Cukup angkat telepon sebutkan pesanan dan transfer dananya. Bisa langsung dikirim, praktis. Sehingga orang luar Surabaya yang kangen oleh-oleh khas bisa terlayani. Di luar jam buka toko sebenarnya tetap dilayani. Tetapi perlu sedikit sabar karena semuanya dilayani Bambang sendiri. Tidak ada pegawai kalau tidak pas jam buka toko. Membeli oleh-oleh berapapun nilai nominalnya dilayani meskipun hanya membeli sebungkus kerupuk rambak. ”Itu pun kalau pembelinya tega,”ujarnya terkekeh.
Di dinding toko ini terpampang beberapa foto artis terkenal ibukota. Pertanda mudah kalau toko ini menjadi rujukan untuk mencari oleh-oleh. “Para artis itu enggak bakalan tenang kalau enggak ketemu saya dulu di sini. Bukan apa-apa, soalnya, saya kan kasirnya,” ujar Jeliteng penuh percaya diri.
Toko Bhek Putra
Jl.Kaliasin no.29, Surabaya
Tadi pagi anakku Satrio aku tunjukkan majalah National Geography Indonesia terbitan bulan Desember tahun 2007, tentang Dinosaurus.
Percakapan ini antara ibu dan Satrio.
Ibu: Io,... Dinosaurus ini binatang purba.
Io: O gitu ya bu...
Ibu: Di Batak ada juga orang yang namanya Purba.
Io: O berarti di Batak banyak Dinosaurus, ya bu?

Dua ormas terlibat bentrok di luar pengadilan negeri Jakarta Pusat.
Beda pendapat kayaknya sudah jadi bagian dari kehidupan.
Kenapa ya masih aja ada orang suka main pukul karenanya…
Sekarang enggak penting siapa yang salah atau siapa yang benar.
Cuma prihatin,
Kenapa harus pakai kekerasan?
Itu saja…..
Cirikhas sepatu bola hingga saat ini adalah stud atau ada yang menyebutnya cleat alias “sepul” atau paku yaitu tonjolan di bawah sol sepatu. Tujuannya untuk kestabilan dan agar pemain tidak mudah terpeleset di lapangan rumput. Sepatu bola dibuat dari bermacam variasi kulit, tetapi awalnya kulit kangguru paling sering dijadikan pilihan.
Menurut aturan asosiasi sepakbola, mengenai peraturan permainan. Pada aturan ke 4:kelengkapan pemain adalah termasuk sepatu bola. Aturan ini berlaku hingga tahun 1891, sepatu bola dilarang menggunakan sol atau hak. Aturan ini pada tahun yang sama direvisi dengan diperbolehkan bar (batang) dan stud (paku). Asalkan keduanya dibuat dari kulit, dan panjangnya tidak boleh lebih dari setengah inchi. Dan dipasang sambil dibungkus kulit. Stud harus dibuat membulat, tidak boleh kerucut ataupun runcing dan diameternya tidak lebih dari satu inchi. Sehingga pada jaman itu, pemain bola biasanya memiliki beberapa pasang sepatu sesuai dengan cuaca lapangan permainan.
Pada pertengahan tahun 1950an Adidas mengenaikan sistem sekerup untuk stud. Yang bisa diganti-ganti terbuat dari plastik atau karet disesuaikan dengan kondisi lapangan.
Bicara mengenai bobot, sepatu bola pada awalnya sangat berat, karena sepatu ini melindungi sampai pergelangan kaki atau mata kaki. Bentuk ini yang menjadi standar di bagian Utara Eropa selama beberapa tahun. Sedangkan di Eropa Selatan dan Amerika bagian Selatan lebih mengenal sepatu bola yang tidak perlu melindungi angkel. Sehingga bobot sepatu jauh lebih ringan. Dan, kemudian model ini menjadi model standar hingga saat ini.
Sepatu bola yang tergolong paling mutakhir hingga saat ini adalah T90 Laser II buatan Nike. Penggunaan tali sepatu yang tersembunyi dan terintegrasi memperluas bidang sepatu yang bersentuhan dengan bola. Kelebihannya pemain dapat lebih akurat mengontrol bola dengan akurat. Teknologi tali sepatu V-Twin lacing ini, memaksimalkan pemain striker untuk menendang bola, kekuatan tendangan bola bisa dilakukan secara maksimal.
Bahan sepatu T90 ini dari kulit Teijin synthetic leather, melindungi kaki pemain dan menjaga suhu kaki sesuai dengan suhu di luar selama kurang lebih 90 menit. Sehingga kaki tidak kepanasan atau pengap. Meskipun sepatu ini tahan air dengan teknologi eVENT membrane kaki tetap masih bisa bernafas dan tetap kering.
Kekerasan sol sepatu T90 yang sangat baik, membuat stabil posisi kaki ketika menendang bola. Stud atau cleat disusun secara individual personal, sehingga didapat cengkeraman yang optimal. Termasuk menciptakan kenyamanan di kaki pemakainya.
Sehingga kalau sepatunya sudah canggih, tinggal pemainnya yang mengimbangi kecanggihan sepatu bolanya…
Sepatu bola dari masa ke masa
Tahun 1526
Sepatu bola konon pertama kali dibuat pada jaman raja Henry VIII di Inggris. Ketika itu di tahun 1526 raja Henry memesan baju kebesaran, diantara baju-baju kebesaran itu kerajaan juga membelanjakan 45 pasang sepatu beludru dan 1 pasang sepatu bola yang terbuat dari kulit. Sayang, semua sepatu termasuk cikal bakal sepatu bola ini tidak diketahui keberadaannya hingga sekarang.
Sepatu bola jaman raja Henry VIII ini dibuat oleh seorang pembuat sepatu bernama Cornelius Johnson di tahun 1525, seharga 4 shillings, setara dengan 100 Poundsterling saat ini atau setara Rp. 1.671.400. Bahan sepatu bola dibuat dari kulit yang keras, tinggi sepatu ini melebihi pergelangan atau mata kaki sehingga bobot sepatu bola pertama ini lebih berat daripada sepatu biasa.
Tahun 1800an
Inilah awal mula bentuk sepatu bola yang sekarang. Karena pada sepatu yang terbuat dari kulit, sol sepatu atau alas sepatunya diberi paku baja. Berfungsi agar pemain tidak terpeleset dan untuk menjaga kestabilan.
Kemudian dibuat aturan supaya paku baja dibuat tumpul demi keamanan. Paku baja itu kini sebutannya cleat, yang ditanam di sol sepatu.
Tahun 1900-1940
Bentuk sepatu bola mulai lebih pasti dan tak berubah mulai dari tahun 1900 sampai akhir PD II. Di tahun ini muncul beberapa produsen sepatu bola seperti Gola(1905), Valsport (1920) dan pembuat sepatu dari Denmark, Hummel(1923).
Hingga di Jerman juga muncul Dassler bersaudara yaitu Adolf dan Rudolf yang membangun Gebruder Dassler Schuhfabrik (Dassler Brother Shoe Factory) di Herzogenaurach tahun 1924 dan mulai memproduksi sepatu bola tahun 1925 yang memiliki 6 atau 7 paku/cleat yang bisa dipindah-pindah. Bertujuan untuk menyesuaikan cuaca ketika bermain.
Tahun 1940-1960
Bobot sepatu semakin enteng, tak hanya sekedar sepatu. Fungsi sepatu mulai difokuskan untuk menendang dan kontrol bola.
Tahun 1948, perusahaan Adidas yang dipimpin Adolf (Adi) Dassler berseteru dengan saudaranya Rudolf . hal ini menjadi peletak dasar persaingan dalam produksi sepatu bola hingga sekarang. Rudolf membangun pabrik sepatu Puma tahun 1948, kemudian ia memproduksi sepatu bola Puma Atom. Memperkenalkan teknologi cleat pertama yang bisa diganti-ganti yang terbuat dari plastik atau karet. Teknologi ini sebenarnya yang memulai Puma di awal tahun 1950, tetapi karya ini juga diklaim sebagai milik Adidas.
Pada waktu itu sepatu bola masih dibuat di atas mata kaki atau pergelangan kaki. Materialnya berupa gabungan kulit dan bahan sintetis. Penggabungan bahan sepatu ini yang membuat bobot sepatu bola menjadi lebih enteng.
Tahun 1970
Tahun 1970 adalah jaman keemasan pesepak bola asal Brasil yaitu Pele dengan sepatu Puma King. Selama dekade ini awal mula pabrik sepatu mensponsori pemain. Setiap pemain dibayar dan harus memakai satu merek sepatu. Perkembangan disain sepatu bola juga mulai berkembang, bobot semakin ringan, warna semakin beragam, termasuk pertama kali warna sepatu bola yang seluruhnya putih.
Di tahun 1979 Adidas memproduksi sepatu bola yang sangat laris, yaitu Copa Mundial. Bahan sepatu dibuat dari kulit kangguru, untuk kecepatan dan kelincahan. Meskipun Adidas dominan memimpin pasar, beberapa produsen sepatu bola tetap bersaing memperebutkan pasar termasuk dengan munculnya merek Diadora (1977) dari seorang pembuat sepatu asal Italia.
Tahun 1980
Perkembangan yang cukup besar dalam dunia sepatu bola ketika Craig Johnson mantan pesepakbola di tahun 80an mendisain sepatu bola. Bernama Predator yang diproduksi Adidas tahun 1990. Kelebihan sepatu bola ini adalah traksi(gaya tarik/cengkeraman) antara sepatu dengan bola, juga sepatu dengan lapangan sangat baik.
Tak hanya itu, sepatu Predator ini memiliki “sweet spot” alias bagian sepatu yang bisa membuat bola melengkung ketika di tendang melambung di udara (tendangan pisang). Tahun 1985 produsen sepatu Inggris, Umbro mulai memproduksi sepatu bola. Begitu jugadi tahun 1982 produsen sepatu Lotto (Italia) dan Kelme (Spanyol)memproduksi sepatu bola.
Tahun 1990
Tahun 1994, Adidas Predator mengalami pengembangan terutama pada cleat yang tidak berwujud paku-paku lagi. Sol sepatu juga dibuat lebih fleksibel, dengan bahan polimer. Kemudian cleat dibentuk langsung dari sol berupa bilah seperti pisau. Disain ini membuat pemain lebih stabil. Tahun 1995 Adidas mengeluarkan teknologi cleat yang seperti pisau dan meruncing ujungnya ini.
Tahun 1996 produsen Puma mengenalkan Puma Cell Technology, yaitu sepatu yang tanpa memakai busa (foam free). Perkembangan yang mencolok adalah ketika Nike mengeluarkan sepatu bola Nike Mercurial (1998) yang beratnya hanya 200 gram.
Sumber: Footy-boots.com/bimo