Wednesday, August 15, 2007

Sore apa malam?


Ini sebenernya malam jam 8 malam waktu setempat...
Posted by Picasa

Thursday, August 2, 2007

Si Anggie

Anggie Setia Ariningsih: Menyogok Preman Demi Mengajar Anak Jalanan
Oleh: A. Bimo Wijoseno


Penulis: A. Bimo Wijoseno

Gadis itu masih remaja. Namun, pemikirannya terhadap pendidikan anak-anak berkekurangan sudah begitu matang. Ia menyadari, pendidikan salah satu modal utama bagi seseorang demi menggapai masa depan yang berhasil. Karenanya, ia rela menyogok preman dengan uang agar diberi kesempatan mengajar anak-anak jalanan. Anggie Setia Ariningsih, nama gadis itu.
=====
Dari ruang serbaguna Kelurahan Menteng Atas, Jakarta Selatan, terdengar suara riuh rendah. Pagi itu puluhan bocah berumur 3 - 5 tahun berkumpul di tempat itu.
"Mbak Anggi, mbak Anggi," seru seorang dari mereka sembari mengacungkan tangan. Yang dipanggil menoleh, lalu melempar senyum. Anggi, begitu ia biasa dipanggil, pagi itu memang menjadi "bintang".
Melihat dandanannya, Anggi tak beda dengan kebanyakan anak muda kota besar lainnya. Usianya pun baru 20 tahun. Namun, di usia semuda itu, ia sudah melakukan banyak hal berbeda dibandingkan dengan rekan-rekan sebayanya. Saat kawula muda lain lebih suka jalan-jalan ke mal, ia malah memilih mengajar anak-anak berkekurangan.
"Tidak mudah mengumpulkan anak-anak itu untuk diajak belajar bersama. Padahal tidak dipungut biaya," katanya. Maklum, orangtua mereka kebanyakan tinggal di daerah kumuh. Kebanyakan bekerja sebagai pemulung dan pemungut sampah.

Bayar preman
Saat pertama Anggi mengunjungi anak-anak asuhnya awal Januari lalu, mereka tampak tak bersahabat. Salah satu warga bahkan bertanya, "Mau apa ya? Dari partai apa ya?"
Anggi harus bersusah payah menjelaskan keinginannya berbagi. Belakangan, setelah sikap mereka lebih bersahabat, Anggi jadi tahu penyebab ketakutan mereka. "Maaf, kita mesti waspada sama orang luar. Kami takut, anak-anak kami diculik dan dijual," imbuh salah satu dari mereka.
Suatu malam, dibantu Atun, salah seorang remaja putri di kampung itu, Anggi mendatangi tiga rumah penduduk. Sebelumnya, Anggi sudah meminta izin kepada lurah setempat, Samsul Bahri. Bukan hanya mengizinkan, Samsul bahkan menyediakan tempat untuk belajar. "Padahal tadinya saya cuma mau meminjam lapangan parkir kelurahan," kisah Anggi. Akhirnya, terkumpullah 45 anak yang mau belajar bersama Anggi.
Kegiatan di Menteng Atas bukan yang pertama dan satu-satunya buat Anggi. Sebelumnya, ia pernah membuat kelompok belajar anak jalanan di kolong jembatan Grogol, yang kini terhenti karena Anggi kesulitan mengatur waktu mengajarnya. Ada pengalaman menarik sebelum ia memulai aktivitas di kolong jembatan. Waktu itu (tahun 2000), bus kota yang ditumpangi Anggi melewati kolong jembatan Grogol.
"Aku dalam perjalanan menuju lokasi lomba debat, mewakili sekolahku, SMK Negeri 8, Pejaten Pasar Minggu," tuturnya. Tiba-tiba, dari jendela bus, ia melihat beberapa anak jalanan seusia anak SD berkeliaran di sana. "Kapan ya mereka sekolah, atau malah tak sempat sekolah?" cetusnya dalam hati. Anggi lalu turun dari bus dan menghampiri mereka.
"Kalian mau sekolah enggak?" tanyanya.
"Ah, bohong!" jawab mereka ketus.
Meski tak disambut ramah, Anggi tak putus asa. "Kita ketemu di sini lagi besok pagi ya?" ajaknya.
Anak-anak itu diam sebentar. "Enggak, ah. Takut ketahuan sama Abang (preman - Red.)."
"Bikin aja enggak ketahuan," timpal Anggi.
Esok harinya, Anggi membawa sekantong permen dan sebotol sampo. Ia tidak langsung mengajak mereka belajar. Namun, anak-anak jalanan itu dimintanya keramas.
"Minggu depan kita ketemu lagi ya?" pinta Anggi.
Tak ada jawaban pasti dari mulut mereka. Namun, minggu berikutnya, Anggi menepati janji. Ketika mengetahui Anggi datang, barulah mereka tersenyum. "Kok senyum?" tanya Anggi keheranan. "Lu ternyata enggak bohong," jawab mereka polos.
Menjadi anak muda berbakti seperti Anggi memang banyak menhadapi cobaan. Ketika mengajar para anak jalanan itu, misalnya, ia pernah dihampiri preman. "Buat apa lu di sini?" tanya mereka. Dengan berani Anggi menjawab, cuma ingin mengajar anak-anak jalanan itu membaca. "Sejujurnya, aku takut juga menghadapi preman-preman itu," ujarnya buka rahasia.
Untungnya, penjelasan Anggi bisa mereka terima. Namun, salah seorang preman bilang, anak-anak jalanan itu harus menghasilkan duit. "Dalam satu-dua jam mereka bisa menghasilkan duit seribu sampai dua ribu. Jadi, buat apa belajar membaca," kata si preman. "Oke, kalau begitu aku bayar. Ini uang untuk beli rokok, dan yang ini buat mabuk," tegas Anggi. Sim salabim, urusan beres. Anggi pun dapat mengajar kembali.
Sejak itu, ia jarang diganggu preman lagi.

Modal cas-cis-cus
Imbalan materi jelas bukan tujuan Anggi memenuhi panggilan hatinya untuk berbagi ilmu. Siapa yang mau menggaji guru anak-anak pemulung atau anak-anak jalanan? Anak pertama dari dua bersaudara, buah pasangan Aris Sukoso (42) dan Eni Purwati (43) ini justru harus merelakan sebagian gajinya sebagai office manager di sebuah perusahaan minyak asing untuk membiayai semua aktivitasnya. Setidaknya, ia merogoh Rp 100.000,- per sekali pertemuan untuk membeli alat tulis, permen, dan hadiah-hadiah lain.
"Karier" mengajar Anggi mulai menanjak sejak menang lomba debat bahasa Inggris tingkat nasional tahun 2000. Saat itu ia ditawari Depdiknas untuk menularkan kemampuannya berbahasa Inggris kepada siswa-siswa lain. "Pak Dirjen (Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah - Red.) bertanya pada saya bagaimana caranya fasih berbahasa Inggris, karena kalau mengandalkan pelajaran di sekolah, jelas tidak mungkin," terawang Anggi. "Saya jawab, ya belajar sendiri."
Menurut Anggi, pengajaran Bahasa Inggris di Indonesia kurang lengkap. Siswa lebih banyak diajari menulis ketimbang berbicara. Padahal, bahasa Inggris digunakan tidak hanya untuk menulis, tapi juga berbicara. Itu sebabnya, sejak SMP Anggi gemar mengumpulkan bahan-bahan yang berkenaan dengan bahasa Inggris. Bahan itu ia kumpulkan dari majalah, buku, koran, TV kemudian dikumpulkan jadi satu modul.
Anggi juga terbiasa bergaul dengan orang asing, karena ibunya sekretaris di sebuah perusahaan asing. "Modul pengajaran" bahasa Inggris ala Anggi akhirnya sampai ke tangan Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah, Depdiknas. Gayung bersambut. "Beliau menawari saya untuk berbagi ilmu dengan siswa-siswa lain," jelasnya. Awalnya, Anggi ditugasi mengajar bahasa Inggris di 30 Sekolah Menengah Kejuruan di Jakarta. Senin sampai Jumat, ia berkeliling ke sekolah-sekolah itu. Ia hanya sempat masuk sekolah di SMKN 8, Jakarta pada Sabtu saja.
Profesi mulia itu dia jalani selama dua tahun. Ia makin sibuk, setelah program tidak hanya dijadwalkan di Jakarta, tapi juga ke seluruh pelosok Jawa. "Saya menjadi semacam motivator untuk teman-teman yang lain," sambungnya. Untuk kerja kerasnya itu, Anggi yang masih tercatat sebagai murid sekolah menengah mendapat insentif Rp 100.000,- per bulan. Hebatnya, setamat SMK, gadis ramah yang sejak kecil sudah bercita-cita menjadi office manager perusahaan minyak itu langsung ditawari Depdiknas menjadi pegawai negeri.
Namun, Anggi punya pertimbangan lain, saat menolak tawaran Depdiknas. "Lebih baik aku mengajar orang yang tidak beruntung, karena tidak ada dana buat bersekolah, tapi ada kemauan untuk belajar," terangnya. Anggi melihat banyak sekali siswa-siswi di sekolah mempunyai orangtua yang mampu membiayai sekolah mereka sampai jenjang tertinggi, tapi si anak sendiri kemauan belajarnya sepertinya kalah dengan anak-anak jalanan.
Pada saat bersamaan, ibunya menawarkan pekerjaan sebagai sekretaris di perusahaan asing yang bergerak di bidang perminyakan. Meskipun belum mengantungi ijazah, Anggi langsung mengiyakan. "Modal saya sertifikat penghargaan, list of achievement dan lancar berbahasa Inggris," tuturnya sembari mesem. Hebatnya, Anggi langsung diterima.

Ditentang orangtua
Sejak bekerja, Anggi hanya mengajar pada Sabtu dan Minggu. Jadwalnya memang sangat padat. Tak heran kalau ia pernah terserang penyakit parah. Ia mengalami penyumbatan pembuluh darah di otak, yang membuat Bu Guru muda ini lumpuh. "Kalau kumat, aku jedotin aja kepala ke tembok. Serangannya bisa sampai 30 menit. Terutama ketika marahku memuncak, tapi tidak tersalurkan," ungkapnya terbata-bata.
Anggi sempat lumpuh selama tiga bulan. Dua minggu sekali ia harus disuntik oksigen di RSUPN Cipto Mangunkusumo. Ia juga menjalani puasa mutih. Setelah setahun, kesehatan Anggi akhirnya berangsur pulih. Anggi mengakui, sebenarnya kadar leukosit dalam darahnya juga tidak seimbang. Ia terserang leukimia. "Namun, aku tidak mau mengganggap penyakitku leukimia," ujarnya mantap. Sebab Anggi yakin, ia tidak seperti itu dan bisa sehat seperti manusia normal.
Selain mengajar, semangat belajar Anggi pun tak pernah surut. "Saya kerja buat biaya kuliah," jelasnya. Sebenarnya, tahun 2003 ia sudah kuliah di Universitas Nasional. Namun, jadwalnya sering tidak klop dengan ritme kerja di kantor. "Aku terlambat terus, sampai akhirnya memutuskan keluar saja," ungkap Anggi. Jurusan Sastra Inggris ia ambil dengan pertimbangan agar mudah dicerna. Ia takut otaknya tidak mampu.
Kekhawatiran juga datang jika kelak ia tak dapat lagi berdiri di depan "kelas". Itu sebabnya, Anggi mulai menularkan semangatnya kepada sejumlah teman. "Saya mengajak mereka menemani mengajar atau menjadi donatur," bilangnya lirih. Ia berharap, kelak akan muncul anggi-anggi baru yang lebih hebat. Ia juga ingin ada sekolah gratis dan berkualitas bagi semua orang di Indonesia.
Di usia yang relatif sangat muda itu, Anggi sudah tampak luar biasa bijaksana. Bersusah payah mengajar anak jalanan dan orang miskin, tanpa digaji, bahkan merogoh kocek sendiri, tak banyak orang mau melakoni. "Jika kita mengerjakan sesuatu hanya karena imbalan uang, tidak akan pernah sempat menabung. Menabung di sini, tidak ada urusannya dengan uang, tapi rasa. Tepatnya, kepuasan batin. Itu juga sekaligus menjadi obat buat penyakitku," imbuhnya.
Sayangnya, kegiatan sukarela ini masih ditentang oleh orangtuanya. Alasannya sangat masuk akal, berkaitan dengan kesehatan Anggi. "Kedua orangtuaku begitu protektif, terutama ibu. Makanya, aku sering berbohong. Aku bilang pergi ke kantor, padahal mengajar. Soalnya, apa yang aku kerjakan ini tidak memberi nilai lebih buat keluarga dan diriku sendiri. Malah mengeluarkan dana," ucap Anggi serius.
Hal itu kadang terasa mengganjal di hati Anggi. "Namun, suatu saat nanti, aku akan bilang apa yang aku lakukan ini merupakan pilihan bebasku," janjinya kepada diri sendiri.

Powered by ScribeFire.

thermal scan

Thermal scan untuk tulang belakang
Oleh: A. Bimo Wijoseno


Dulu Nervoscoupe, Kini Thermal Scan

Oleh sebagian orang, chiropractic masih sering diidentikkan dengan penyembuhan "tangan kosong". Padahal, seiring perkembangan teknologi kedokteran, alat-alat untuk memaksimalkan kerja chiropractor - begitu ahli chriropractic biasa disebut - pun makin banyak diciptakan. Salah satunya, thermal scan. Jadi, jangan lagi menganggap chiropractic sekadar terapi yang mengandalkan "keahlian" tangan belaka.

Thermal scan - nama lengkapnya jauh lebih keren, Insight Millenium Subluxation Station - bisa disebut sebagai salah satu perangkat paling mutakhir yang dibikin untuk membantu proses terapi tulang belakang. Khususnya untuk memeriksa fungsi dari sendi dan saraf yang bermasalah. Pada thermal scan, para ahli chiropractic menemukan sistem yang dapat menganalisis lebih canggih dan akurat, dengan mendeteksi perbedaan suhu saraf tulang belakang.
Bukan berarti sebelumnya tak ada alat yang diciptakan untuk "memata-matai sendi" dan saraf tulang belakang itu. Sebelum munculnya thermal scan, chiropractor melakukan analisis letak subluksasi (kemungkinan adanya saraf yang terjepit) dengan menggunakan perangkat yang biasa disebut nervoscope. Nervoscope ini sudah ada sejak 55 tahun yang lalu. Fungsi perangkat ini setali tiga uang dengan thermal scan, yakni untuk mengukur suhu saraf tulang belakang.
Namun secara fisik, nervoscope lebih mirip speedometer sepeda motor, dengan jarum penunjuk dan angka-angka pengukur. Dia mempunyai dua buah batang yang berdampingan untuk mengukur suhu. Dua batang nervoscope ini fungsinya kayak termometer, satu bertugas mengukur suhu saraf kiri dan satunya lagi untuk bagian kanan. Jika terdeteksi adanya kelainan, suhu kiri dan kanan akan berbeda. Sebaliknya, kalau suhunya sama, berarti tidak ada masalah.
"Kulit merupakan organ tubuh terbesar dan dilengkapi dengan pembuluh darah, yang berfungsi sebagai termostat. Jika sistem saraf terganggu, otomatis juga akan menyebabkan termostatnya terganggu, sehingga terjadi penyampaian informasi suhu yang tidak sama antara kanan dan kiri tubuh," chiropractor dr. Tinah buka suara, menjelaskan mengapa perbedaan suhu itu bisa terjadi.

Lebih mudah dan cepat
Setiap pasien yang baru pertama kali berobat ke klinik chiropractic mestinya akan langsung "bertatap muka" dengan nervoscope atau thermal scan. Maklum, pemeriksaan subluksasi termasuk bagian dari pemeriksaan awal buat mereka yang dicurigai mempunyai tulang belakang bermasalah. Dengan nervoscope, chiropractor akan memeriksa perbedaan suhu antara kanan dan kiri saraf tulang belakang. "Saat pemeriksaan kulit, pasien harus kering, tidak basah, apalagi berkeringat. Agar nervoscope dapat bekerja secara akurat," jelas Dr. Tinah.
Belakangan, dengan munculnya thermal scan yang berteknologi lebih anyar, nervoscope sudah mulai ditinggalkan para terapis. Keunggulan thermal scan yang paling nyata, hasil pemeriksaannya dapat dilihat langsung di layar komputer. Sehingga terapis dan pasien bisa sama-sama tahu dan berdiskusi perihal masalah yang sedang dihadapi.
Berkat thermal scan pula, chiropractor dimudahkan dalam memastikan dan menganalisis masalah saraf pasien. Jika dengan nervoscope harus mengukur satu demi satu titik-titik saraf tulang belakang, dengan thermal scan cukup menggelindingkan alatnya di sepanjang tulang belakang. Di layar komputer, hasil scanning yang dilakukan akan tampak jelas dan detail, menunjukkan bagian-bagian mana saja dari tulang belakang pasien yang mengalami gangguan.
Selanjutnya, daerah yang mengalami gangguan ini diperbaiki dengan pijatan atau tekanan dengan jari. "Alat ini tidak hanya mendeteksi sakit di sekitar tubuh, namun juga bisa membantu mendeteksi asma, alergi, juga autisme," imbuh dr. Tinah. Hal itu bisa diketahui dari saraf mana yang langsung menuju organ dalam tubuh. Kalau asma misalnya, tentu titik saraf yang menuju organ pernapasan menunjukkan ada tanda-tanda tidak beres. Semuanya bisa dianalisis dari grafik yang muncul di layar monitor.
Apakah pemeriksaan thermal scan menimbulkan rasa sakit? Dari pengalaman pasien selama ini, tidak sama sekali. Karena alat ini tidak memakai jarum, panas ataupun radiasi, sehingga aman digunakan untuk siapa saja. Lagipula, fungsi thermal scan hanya untuk mendeteksi informasi suhu dari susunan saraf tulang belakang. Tidak lebih, tak kurang.
Keunggulan lain, alat ini mampu mendeteksi fungsi susunan saraf tulang belakang yang tidak dapat terlihat dengan x-ray atau rontgen sekalipun. Ia juga aman digunakan oleh seluruh usia, tak peduli anak-anak atau orang dewasa, bahkan oleh wanita hamil.
Pendek kata, alat buatan Amerika Serikat ini sangat memudahkan kerja chiropractor dalam mencari subluksasi. Terapis cukup menggelindingkan alat pemindai di tulang belakang pasien, dengan waktu pemeriksaan tergolong singkat, cuma butuh sekitar 5 sampai 10 menit. Meski begitu, hasilnya dijamin tetap akurat, dibandingkan alat lain yang sejenis. Thermal scan pun praktis, karena nyaris tak perlu pencatatan. Semua sudah ada di monitor, tinggal dipelototin.
Jika hasil "melotot" menunjukkan ada warna merah di titik tertentu, berarti ada yang tidak beres pada titik tersebut. Kalau warnanya hijau, ya aman-aman saja. Tingkat keparahan dari ketidakberesan tadi juga bisa dilihat detail, karena ada prosentasenya.

Bisa Juga Mengamati Otot
Beberapa tahun terakhir, perkembangan chiropractic dan alat diagnosisnya terbilang pesat. Pasti tak seorang pun menyangka, jika pada awalnya, para terapis lebih banyak menggunakan tangan kosong sebagai alat pendeteksi gangguan tulang belakang. Setidaknya itu yang terjadi di era B.J Palmer, bapak chiropractor, ketika ia mendeteksi gangguan dengan punggung tangan, untuk mengetahui peningkatan suhu di tulang belakang atau mencari di mana tulang belakang yang mengalami subluksasi.
Agar hasil analisis lebih obyektif, alat-alat diagnostik berteknologi tinggi pun kemudian dikembangkan. Meskipun secara basic, masih banyak chiropractor yang tetap memakai cara pemeriksaan panjang kaki dan palpasi tulang belakang untuk menentukan masalah di tulang belakang.
Metode dan hasil diagnosis yang lebih pasti menjadi sasaran para ahli chiropractic. Palmer sendiri - orang yang dianggap paling berperan mengembangkan chiropractic (sejak 1950-an) di antaranya dengan mendirikan The Palmer School of Chiropractic di Florida, Amerika Serikat - ikut mendorong terciptanya alat-alat pendeteksi itu. terciptalah kemudian cikal bakal nervoscope.
Sejak itu, perusahaan-perusahaan yang memproduksi dan memasarkan alat diagnosis chiropractic bermunculan. Mereka juga mengembangkan adjusting instrument dan yang terbaru ditemukan adalah suatu alat yang dapat menganalisa sebelum dan sesudah pengoreksian tulang belakang. Alat ini didasarkan pada adanya perbedaan suhu pada saraf tulang belakang, kemudian menandai level dari saraf-saraf yang mengalami malafungsi.
Kemajuan sektor teknologi informasi (termasuk komputer) dan kebutuhan akan alat diagnosis yang sahih, membuat makin lama alat yang diciptakan kian praktis dan akurat. Kebutuhan yang pada akhirnya bermuara pada munculnya thermal scan, yang kini sudah digunakan di seluruh dunia dan terus dikembangkan sesuai kebutuhan.
Dalam praktiknya, thermal scan tidak hanya digunakan oleh chiropractor, banyak praktisi medik lain yang menggunakannya sebagai alat untuk sebelum dan sesudah treatment. Apalagi penggunaan thermal scan dapat juga digabungkan dengan pengukuran surface EMG, inclinometer, sehingga selain mengetahui suhu saraf tulang belakang, juga dapat mendeteksi aktivitas otot-otot sekitar tulang belakang.
Kita tunggu saja, ke depan, apa lagi yang bisa dilakukan thermal scan di punggung (dan sekitarnya) kita.


Boks:
Antara Ukuran Kompak dan Komputerisasi

Nervoscope
- Mengukur perbedaan temperatur saraf tulang belakang secara analog
- Tidak dapat dihubungkan dengan komputer, sehingga hasil pegukuran tidak dapat dicetak di atas kertas
- Alatnya lebih kecil dan kompak.

Thermal Scan
- Mengukur perbedaan temperatur saraf tulang belakang dengan memanfaatkan sistem komputerisasi dan digital
- Hasil pengkuran dapat dicetak, sehingga bisa disimpan.
- Harus dihubungkan dengan komputer.



Powered by ScribeFire.

Wednesday, July 18, 2007

malnutrisi

Masak, di rumah sakit kurang gizi, sih?

Malnutrisi biasa terjadi di masyarakat. Namun, bisa juga terjadi saat dirawat di rumah sakit, istilahnya malnutrisi klinis. Tak hanya terjadi di rumah sakit kecil dan besar di dalam negeri, rumah sakit di luar negeri pun menghadapi masalah malnutrisi klinis ini.

===

Istilah malnutrisi sering diartikan sebagai kurang gizi. “Meskipun pengertian sesungguhnya malnutrisi adalah salah makan, malnutrisi bisa berarti terlalu banyak makan atau kurang makan,” jelas Triyani Kresnawan, DCN, M.Kes, Ahli Gizi RSCM, Jakarta. “Biar tidak malnutrisi atau salah makan maka seseorang perlu diet,” tambahnya. Lho, kurang gizi kok malah disuruh diet?

Dengan tersenyum Triyani menjelaskan, memang, diet sering disalahartikan. Makna diet tak sesempit hanya bertujuan untuk kecantikan, untuk mengecilkan perut biar tidak kelihatan gemuk. Diet yang sesunguhnya adalah mengatur pola makan sesuai dengan kebutuhan tubuh seseorang. Orang yang sedang menjalani pengobatan tertentu juga menjalani diet. Bahkan tak hanya orang sakit dan orang yang kelebihan makan perlu melakukan diet. Orang sehat pun sesungguhnya perlu juga berdiet. Tujuannya mengatur pola makan yang benar, agar seseorang tidak menderita malnutrisi baik itu kekurangan ataupun kelebihan gizi.

Sekarang, bagaimana mungkin, seorang pasien yang dirawat di rumah sakit justru menderita malnutrisi? Jika seseorang menjalani rawat inap di rumah sakit, bukan jaminan pasien itu tidak akan mengalami malnutrisi. Ada beberapa faktor yang dapat mengakibatkan pasien mengalami malnutrisi saat rawat inap. Kondisi pasien malnutrisi di rumah sakit bisa saja terjadi karena sudah malnutrisi saat masuk RS. Atau juga kondisi pasien sewaktu masuk dalam kondisi gizi baik, namun selama perawatan menjadi buruk. Satu contoh sederhana, pasien selama dirawat inap tidak mau makan otomatis gizinya akan memburuk. Entah karena berbagai alasan seperti tidak berselera, menu yang tidak memikat, lingkungan sekitar yang tidak membuat berselera (misalnya, satu ruangan dengan pasien yang kerap batuk berdahak), dan memang pasien itu sendiri mengalami gangguan pencernaan.

“Malnutrisi di rumah sakit sebenarnya karena masalah kurang peduli gizi,” ungkap Triyani. Menurut data yang ada, di RS Cipto Mangunkusumo Jakarta tahun 1989 pasien mengalami malnutrisi saat masuk 45.9%. Tak hanya RS Cipto, di RS Sumber Waras Jakarta tahun 1995 pasien yang mengalami malnutrisi saat masuk 42.26%. Sedangkan di RSPAD Gatot Subroto Jakarta tahun 2001 saat masuk, pasien malnutrisi 41.2% dan perlu terapi gizi 78.57%. Data terakhir di RS Hasan Sadikin Bandung 2006 saat masuk pasien malnutrisi 71.8% sampai yang berat mencapai 28.9%

Padahal, malnutrisi klinis berdampak langsung pada keberhasilan perawatan pasien di rumah sakit. Malnutrisi klinis dapat berakibat risiko komplikasi infeksi, bertambah lama waktu perawatan di rumah sakit, bahkan sampai menyebabkan kematian.

Kelalaian dokter atau rumah sakit?

“Malnutrisi yang terjadi selama dirawat di RS sebenarnya iatrogenik (dibuat oleh dokter) dan dapat digolongkan sebagai kelalaian dokter atau RS,” ujar Dr. Sun Sunatrio ketua Asosiasi Nutrisi Enteral dan Parenteral.

Lebih lanjut Sunatrio menjelaskan, dampak dari malnutrisi klinis, yakni berakibat fungsi organ tubuh akan berkurang. Obat-obatan pun bekerja tidak secara normal. Berat badan pasien semakin menurun, penyembuhan luka juga terhambat. Kekebalan tubuh akan terganggu sehingga mudah terserang penyakit infeksi. Lama rawat di rumah sakit juga meningkat, angka kematian meningkat, otomatis biaya rumah sakit juga meningkat. Hal ini sangat memberatkan pasien dan keluarganya, sudah sakit masih memikirkan lagi biaya perawatan yang tidak sedikit.

Dr. Benny Philipi SpBD, ahli bedah dari FKUI, menambahkan, karena malnutrisi, tubuh akan digerogoti oleh tubuhnya sendiri. Agar mengetahui seseorang malnutrisi atau tidak ada rumusnya yakni dengan mengetahui indeks masa tubuh (lihat inbok). Mewaspadai malnutrisi di rumah sakit menjadi penting karena banyak penelitian menunjukkan bahwa komplikasi 2 sampai 20 kali lebih sering pada pasien malnutrisi daripada pasien dengan gizi baik. Pasien dengan malnutrisi berat akan mengalami komplikasi yang besar. Dan, berisiko mengalami komplikasi besar pascabedah 4 kali lebih tinggi daripada pasien dengan gizi baik.

Malnutrisi klinis bisa terjadi juga karena penyakitnya sendiri (karena penyakit yang begitu parah membuat pasien lemah dan kurang gizi),

dapat juga karena efek samping terapi atau pembedahan. Keadaan ini makin buruk bila dokter maupun paramedik tidak waspada terhadap keadaan ini. Kekurangan gizi pada pasien bisa saja terjadi pada pasien dengan gizi yang baik, namun karena keadaan trauma berat dan luka bakar gizinya bisa memburuk.

Dr Benny menambahkan bahwa, kekurangan gizi pada pasien bedah menyebabkan tingkat mortalitas (kematian) tinggi. Ditandai dengan kandungan albumin dalam darah kurang dari 3g% per 100ml, berat badan turun lebih dari 10 kg, sehingga akan menyebabkan penyulit pasca bedah.

Makanan juga obat

“Mengatasi malnutrisi rumah sakit butuh kerjasama semua pihak,” ungkap DR. Sunatrio. Pendidikan juga diperlukan untuk meningkatkan pengetahuan dokter, perawat, dietisien, dan ahli farmasi tentang nutrisi agar sadar pentingnya nutrisi. “Materi pengajaran tentang malnutrisi dirasa masih kurang di Indonesia,”ujarnya. Sehingga perlu dibentuk tim terapi gizi di rumah sakit-rumah sakit. Dan, mengupayakan agar nutrien atau makanan dapat dianggap sebagai obat. Sehingga pasien dapat penggantian biaya oleh pihak ketiga (asuransi kesehatan, dan instansi tempat kerja/ASKES). Biaya makan dipisahkan dari biaya kamar perawatan di rumah sakit (makanan dianggap sebagai obat).

Nutrisi kerap kurang diperhatikan dalam proses pengobatan dan sambil lalu saja. “Kelalaian dokter bisa menyebabkan seseorang mengalami malnutrisi,” tegas Sunatrio yang juga pakar anesthesiologi UI ini. Kelalaian dokter bisa terjadi karena ketidaktahuan. Sebab, selama ini dokter dan perawat dalam menjalani pendidikan kurang diberi pengetahuan tentang nutrisi secara mendalam. Sehingga bisa saja seorang pasien ketika masuk dalam kondisi nutrisi yang cukup bagus, bisa saja mengalami malnutrisi ketika menjalani perawatan di rumah sakit. Contohnya, penderita kanker, oleh dokter diberi kemoterapi terus-menerus, namun nutrisinya kurang diperhatikan. Bisa saja ia mengalami malnutrisi. “Hal ini tak hanya terjadi di sini, bahkan di luar negeri,”tandasnya.

Di beberapa negara maju, para pasien mengalami malnutrisi akibat perkembangan teknologi pengobatan. Maksudnya, para dokter lebih fokus pada cara-cara pengobatan sehingga kurang memperhatikan nutrisi pasiennya. Agar sadar pentingnya nutrisi, Dr. Benny menyarankan agar dokter dan paramedik mengenali betul potensi pasien malnutrisi di RS. Mengenali pasien yang potensial menjadi malnutrisi di rumah sakit, seperti pasien yang menjalani pembedahan, radiasi atau kemoterapi, termasuk pasien yang kandungan protein dan albumin dalam darahnya rendah, juga mereka yang berat dan tinggi badan kurang. Termasuk pasien yang mengalami infeksi berat.

Dari pengalaman Dr. Benny menangani pasien bedah, malnutrisi bagi pasien bedah dapat mengakibatkan infeksi yang parah dan proses penyembuhan yang lama. Cara mengatasinya selain pengobatan yang tepat dilengkapi dukungan nutrisi yang tepat, bisa lewat saluran cerna atau infus (pembuluh vena) jika memang itu jalan satu-satunya. Sekali lagi asupan makanan posisinya sejajar dengan obat. Pengobatan saja tidak cukup jika tidak dibarengi asupan makanan. Karena masa penyembuhan butuh energi yang didapat dari makanan.

Triyani yang kesehariannya mengurusi gizi pasien di RSCM, menegaskan bahwa sudah seharusnya paramedik rumah sakit mengetahui indikasi dukungan nutrisi yang tepat untuk pasien tertentu (misalnya pasien pascabedah dengan komplikasi, termasuk pasien kritis di ICU), menentukan kebutuhan kalori, protein dan lemak untuk pasien tersebut. Termasuk memilih metode dukungan nutrisi yang sesuai kondisi pasien, bisa secara parenteral (infus), enteral (lewat saluran cerna) atau kombinasi keduanya. Dari sisi jenis asupan perlu diketahui pula formula yang tepat sehubungan dengan kebutuhan dan jenis penyakit pasien (misalnya pasien diabetes dan ginjal yang perlu asupan nutrisi yang sesuai dengan kondisinya)

Sebagai awam, pendamping pasien, termasuk pasien itu sendiri, juga perlu menyadari akan pentingnya nutrisi pada saat penyembuhan. Baik di rumah sakit atau saat rawat jalan. Saran Triyani, bagi pasien yang dirawat inap harus menghabiskan makanan yang telah disediakan RS. Jika menu tidak sesuai bisa dikonsultasikan pada dokter atau perawat. Selanjutnya akan ditindaklanjuti oleh terapi gizi rumah sakit. Tak hanya restoran, rumah sakit juga melayani komplain soal menu, kok. “Tentunya, disesuaikan kondisi rumah sakit bersangkutan,” ujar Triyani.

So, mau sakit atau sehat, kita butuh asupan makanan. Jangan sampai tidak!

inbok

Mengetahui indeks masa tubuh (IMT)

Dengan IMT akan diketahui apakah berat badan seseorang dinyatakan normal, kurus atau gemuk. IMT hanya untuk orang dewasa berumur > 18 tahun dan tidak dapat diterapkan pada bayi, anak, remaja, ibu hamil, dan olahragawan.

Untuk mengetahui nilai IMT ini, dapat dihitung dengan rumus berikut:

Berat Badan (Kg)

IMT = -------------------------------------------------------

Tinggi Badan (m) X Tinggi Badan (m)

Batas ambang IMT ditentukan dengan merujuk ketentuan FAO/WHO, yang membedakan batas ambang untuk laki-laki dan perempuan. Disebutkan bahwa batas ambang normal untuk laki-laki adalah: 20,1–25,0; dan untuk perempuan adalah : 18,7-23,8

Jika seseorang termasuk kategori :

1. IMT <>

2. IMT 17,0 – 18,4: keadaan orang tersebut disebut kurus dengan kekurangan berat badan tingkat ringan atau KEK ringan.

3. IMT 18,5 – 25,0 : keadaan orang tersebut termasuk kategori normal.

4. IMT 25,1 – 27,0 : keadaan orang tersebut disebut gemuk dengan kelebihan berat badan tingkat ringan.

5. IMT > 27,0 : keadaan orang tersebut disebut gemuk dengan kelebihan berat badan tingkat berat

Seseorang yang termasuk kategori kekurangan berat badan tingkat ringan (KEK ringan) sudah perlu mendapat perhatian untuk segera menaikkan berat badan.

Vogel


Kearifan lokal yang mendunia

Alfred Vogel menyuguhkan keampuhan herbal serta mengandalkan kearifan lokal nenek moyang sebagai penyembuh. Bermacam ramuan herbal suku primitif ia kembangkan, menjadikannya pengobatan ilmiah alamiah untuk berbagai macam penyakit.

---

Mungkin kita pernah mendengar dan tahu kalau terserang diare dianjurkan untuk mengunyah pucuk daun jambu biji muda atau buah salak muda. Dan, masih banyak lagi kearifan lokal lain yang bisa digali. Mengenai penyembuhan secara alamiah ini, sebagian orang percaya akan anjuran ini, sisanya menolak dengan alasan tidak ilmiah.

Alfred Vogel kelahiran Aesch, Basel, bagian negara Swiss tahun 1902, seorang ahli nutrisi, herbalis dan naturopati terkenal, justru mengumpulkan berbagai macam kearifan lokal ini. Selanjutnya, ia pelajari dan kembangkan. Vogel menggalinya dari pengalaman keluarganya sendiri hingga menjelajah antar benua, untuk mencari kearifan lokal dari Afrika, Asia, Amerika Utara hingga Amerika Selatan. Koleksi kearifan lokal ini ditahun 1952 oleh Vogel dijadikan sebuah buku berjudul The Nature Doctor, a manual of traditional & complementary medicine, yang hingga saat ini telah dialihbahasakan ke dalam 12 bahasa.

Keampuhan obat-obatan yang diramu dari macam-macam tumbuhan, ia buktikan sendiri, termasuk warisan berbagai macam ramuan obat dari suku primitif yang ia datangi. Seperti yang terjadi di awal tahun 50an, dalam penjelajahan herbalnya, Vogel sempat tinggal bersama penduduk asli Amerika Serikat yaitu suku Indian Sioux. Ia kagum akan kebiasaan suku asli ini yang menggunakan tumbuhan untuk kesehatan mereka. Hingga kemudian ia akrab dengan seorang dukun suku Indian Sioux ini yang bernama Ben Black Elk. Keduanya, saling berbagi pengalaman dan pengetahuan. Sampai akhirnya sang dukun rela memberikan ramuan rahasianya kepada Vogel. Salah satunya adalah bunga purple coneflower atau dalam bahasa latinnya, bernama Echinacea purpurea.

Pada perjumpaan terakhir di South Dakota, Black Elk memberikan bibit Echinacea pada Vogel sebagai hadiah. Bagi suku Sioux, bunga ini ampuh untuk menyembuhkan segala macam penyakit seperti digigit ular, luka atau memar termasuk untuk memperkuat daya tahan tubuh terhadap penyakit. Setibanya di Swiss bibit bunga ini ia tanam dikebunnya. Alhamdulilah, Echinacea dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Hingga sekarang bunga ini dipakai untuk bahan baku produk Echinaforce yang telah dipasarkan ke lebih dari 30 negara dan dipercaya sebagai obat batuk dan flu. Sedangkan di sini produk Vogel dapat dijumpai di apotik dan toko obat terkemuka.

Dalam karya kesehatannya, Vogel meyakini betul bahwa untuk menjaga dan memulihkan kesehatan tubuh, semuanya sudah diberikan Sang Pencipta lewat alam ciptaanNya. Keyakinan ini tak lepas dari pengalamannya sewaktu kecil. Ia mengenal terapi pengobatan dengan memanfaatkan bermacam jenis tumbuh-tumbuhan dari orang tuanya yang merupakan warisan dari neneknya. “Bahkan, saya tidak pernah bermimpi kalau pengalaman kecil saya dengan tanaman obat akan menjadi bagian dari profesi saya,” begitu ucap Vogel yang meninggal dalam tidurnya di tahun 1996 pada umur 94 tahun.

Walaupun Vogel telah wafat, warisan kearifan lokal dari berbagai benua dan ramuan obat herbalnya hingga kini masih bisa dimanfaatkan berkat usahanya mendirikan perusahaan farmasi berbasis herbal, Bioforce, yang didirikannya tahun 1963, di Roggwil, Swiss. Dari pabrik farmasi ini selain menghasilkan produk unggulan Echinaforce, masih ada 35 jenis produk Bioforce lain berupa pengobatan natural untuk rematik hingga prostat termasuk juga makanan organik seperti Muesli (sarapan yang terdiri dari sereal, durian, dan apel) Herbamare (bumbu penyedap alami) dan Molkosan (suplemen untuk pencernaan).

Lebih manjur dibuat tincture

Semua produsen obat yang berbahan baku herbal kerap mengaku produknya alamiah. Namun, ada yang lain dari Vogel. Ceritanya bermula di tahun 1933 Vogel mendirikan klinik naturopati di desa Teufen, masih di Swiss, dengan memanfaatkan pengetahuannya tentang obat-obatan herbal yang ia kuasai. Di sini ia juga menanam sendiri tanaman obatnya. Kini sepeninggalnya, rumah ini tak lagi menjadi klinik berubah menjadi museum Vogel dan tetap menjalankan hotline service untuk konsultasi kesehatan. Terletak di kaki gunung Santis yang pemandangan puncaknya diselimuti sedikit salju.

Dari pengalaman mengobati pasien di kliniknya ini, Alfred Vogel menemukan pencerahan. Tanaman obat yang akan ia jadikan obat akan lebih manjur jika masih dalam keadaan segar dibandingkan jika tanaman obat itu sudah dikeringkan. Padahal, dari kebiasaan, kebanyakan obat herbal diramu dari berbagai tanaman yang dikeringkan. Vogel tidak mencampur terlalu banyak herbal. Baginya lebih sedikit jenis herbal yang dipakai lebih baik. Semakin jelas keampuhan satu jenis tanaman obat tersebut.

Lantas, Vogel mempelajari dan mengembangkan teori yang ia temukan ini. Untuk mendapatkan ramuan obat yang masih segar ditempuh cara membuat herbal tincture dari tanaman segar. Tincture adalah salah satu metode ekstraksi kuno yang dipakai hingga sekarang untuk mengekstrak tumbuhan dengan alkohol yang dapat diminum. Caranya, tumbuhan segar dicacah halus kemudian direndam dalam alkohol yang dicampur air beberapa saat, ampasnya disaring, jadilah tincture. Fungsi alkohol menyerap zat aktif dalam tumbuhan, selain itu juga sebagai pengawet. Berkat alkohol kemanjuran tincture bisa bertahan hingga dua tahun. Kandungan zat dalam tincture setara dengan kandungan zat pada tanaman yang masih fresh, dan semua bagian dari tumbuhan bisa dijadikan tincture. Agar memperoleh tincture yang berkualitas dibutuhkan tanaman obat yang benar-benar segar. Vogel mengambil langsung dari hasil kebunnya atau ia kumpulkan dari lingkungan sekitar gunung tempat ia tinggal. Hingga sekarang praktik ini dilakukan oleh pabrik farmasi Bioforce tetapi tidak mengambil dari sekitar gunung lagi, tanaman obat yang baru saja dipanen dari kebun sendiri pada pagi hari, segera diproses untuk dijadikan tincture, termasuk suplai dari petani. Sehingga tak heran kalau pabrik obat Bioforce ini serasa tenggelam dikelilingi hamparan kebun bunga Echinacea dan tanaman obat lain.

Kebun yang sungguh alamiah

Meskipun kebun tanaman obat Bioforce yang ada di Swiss produksinya mencapai 300ton per tahun. Mereka anti menggunakan pestisida. Perkebunan dibudidayakan secara organik, bahkan sampai bibit yang dipakai murni secara genetik dari bibit tanaman yang bunganya masak. Tidak ada rekayasa genetika untuk bibit tanamannya. Vogel justru membiarkan kebunnya tumbuh sealamiah mungkin, apa adanya layaknya di alam bebas. Karena di situlah sumber energi atau natural power.

Bahkan untuk sektor kebun sayur dan buah organiknya pun, Vogel tidak membutuhkan banyak air. Benar-benar tumbuh seperti adanya. Alasannya, karena mencontoh dari alam, sesungguhnya sayuran dan buah bisa tumbuh subur. Tidak ada yang memberi pupuk dan tidak ada yang menyirami. Kecuali benar-benar butuh air saja. Murni dari alam tak begitu banyak campur tangan manusia. Bahkan, saat musim dingin pun kebun Vogel masih bisa panen wortel.

Tanaman sayuran ditata dalam satu blok jalur tanam yang lebarnya kurang lebih 1,5 m, sebelumnya tanah dibentuk mengkerucut kemudian ditanami 6-9 jenis sayuran yang berjarak sekitar 10 cm saja. Apakah tanaman ini tidak rebutan tempat? Tidak juga, karena panennya tidak bersamaan. Sayuran diatur sedemikian rupa, yang panen belakangan yang paling banyak mengambil tempat. Tanahnya sendiri, perpaduan antara tanah, serpihan kayu, ranting, dahan dan dedaunan. Sesekali dibolak-balik supaya bernafas, dengan alat pertanian yang terbuat dari tembaga. Dipilih tembaga karena dia tidak mudah berkarat dan tidak mengkontaminasi tanah.

Kompos diberikan seperlunya saja yang didapat dari ampas hasil dari pemrosesan tincture atau sampah dedaunan di sekitarnya. Suatu hal yang agak aneh untuk skala pabrikan yang butuh hasil panen yang begitu melimpah dan dalam waktu yang relatif cepat. Memang mereka juga mendapat suplai dari petani sekitar yang syaratnya harus sesuai dengan ketentuan Bioforce.

Bioforce tidak ngoyo dalam berproduksi. Kualitas diutamakan, kalau bunganya tidak layak dipanen ya ditunggu sampai layak panen. Tanahnya pun tidak semua ditanami, ada masa tanah dibiarkan begitu saja untuk beristirahat setelah panen pertama. Istilahnya masa mengumpulkan energi lagi untuk masa tanam berikutnya.

Bagaimana mereka mengatasi hama tanpa pestisida? Sangat sederhana, hama tanaman baik gulma (tanaman pengganggu) ataupun serangga dibiarkan hidup berdampingan. Untuk serangga, juga kelelawar justru dibuatkan rumah-rumahan. Rahasianya, adalah rantai makanan dan simbiosis mutualisme. Tanaman pengganggu kadang justru lebih disukai serangga, maka dibiarkan tumbuh. Lantas, serangga yang sudah dibuatkan rumah tadi, jika saatnya keluar main, nantinya akan disantap oleh kelelawar.

Meskipun kebun dan produk Vogel sungguh alamiah bahkan sungguh primitif, mereka melakukan standarisasi. Mereka menganut holistic standardisation dimana kualitas herbal diukur dari tumbuhan keseluruhan. Diukur spektrum ingredientnya di laboratorium dan mengikuti level tertentu.

Proses ini berbeda dari chemical standardisation, dimana satu komponen dari tumbuhan diukur kemampuannya, dan hanya satu bagian saja tidak secara keseluruhan tanaman. Bioforce justru menganut holistic standardisation karena meyakini bahwa semua bagian dari tanaman menyumbang peran efek penyembuh. Dan, daya penyembuh itu berada dalam tincture yang setara dengan tumbuhan aslinya.

Sepak terjang Vogel dalam bidang pengobatan natural telah diakui dunia, di tahun 1982, Vogel mendapat penghargaan Priessnitz Medal dari German Naturopathic Society. Dua tahun kemudian menjadi anggota kehormatan dari Swiss Society for Empirical Medicine (1984). Sedangkan Bioforce sendiri adalah industri farmasi modern, meski produknya berbasis pada pengetahuan dan tradisi para herbalis. Keilmiahan produk Vogel telah diuji oleh lembaga terpercaya (seperti badan pengawasan obat dan makanan di sini) maupun studi independen, dengan penelitian dan arahan dari tim herbal advisor yang dukung oleh ahli nutrisi, ahli farmasi dan juga quality control.

Berkat Vogel, kearifan lokal menjadi ilmiah dan mendunia. Siapa tahu kita pun bisa mengikuti jejaknya.

Tuesday, July 17, 2007

Onthel

Sori, ini bukan ojek sepeda!

Kring…kring…kring…kring suara sepeda kumbang
Kring…kring…kring…kring Bung Kumis pun tersenyum…

Penggalan lagu Kring Kring yang dilantunkan Vina Panduwinata ini rasanya pas mengiringi sekumpulan pecinta sepeda onthel kuno yang sedang asik kongkow-kongkow di seputaran Bundaran Hotel Indonesia, di Minggu pagi.

Dengan berkostum unik dan nyentrik, diantaranya ada yang berdandan ala kedaerahan berbaju surjan bertopi blangkon, berseragam pejuang ala jaman tahun 45, juga ada yang bergaya petani, guru, mandor tebu dan lain-lain. Mereka bebas memilih perannya. Seakan-akan waktu mundur sebentar ke masa tempoe doeloe.

Sebelum ada kendaraan bermotor, sepeda onthel ini merupakan simbol kemewahan. Bahkan sepeda sangat berjasa menjadi andalan dan berperan penting untuk membantu pekerjaan sehari-hari. Para mandor atau tuan tanah jaman kolonial Belanda, jika berkeliling, mengendarai sepeda onthel untuk mengecek hasil kerja para anak buahnya. Bahkan untuk melancong ataupun pelesiran bersama kekasih pun, rasanya bangga sekali naik sepeda onthel.

Sekarang justru berbalik, sepeda onthel menjadi simbol kesederhaan. Di Jakarta saja, sepeda onthel menjadi kendaran operasional ojek sepeda yang masih kerap dijumpai di daerah Stasiun Kereta Api Kota, Beos, atau Terminal Tanjung Priuk, Jakarta Utara. Termasuk menjadi kendaraan operasional tukang siomay keliling. Sepeda onthel yang pada boncengannya dipasangi panci blirik atau dandang alumunium berbentuk kerucut khas untuk dagang siomay.

Siapa pun boleh ikut

Tetapi beberapa orang yang berkumpul setiap Minggu pagi di seputaran Bundaran HI ini jelas bukan tukang ojek atau tukang siomay. Bermacam kostum yang mereka pakai termasuk merek sepeda yang mereka pakai sudah mencirikan siapa mereka yaitu Komunitas Onthel Batavia disingkat KOBA. Anggota KOBA yang tercatat sekarang sekitar 250an orang. Sedangkan yang rutin yang datang ke Bundaran HI setiap Minggu pagi kurang lebih ada 170 sepeda yang berjejer. Mereka tidak dipungut iuran meskipun ada presensi. Siapapun boleh ikut. Syarat menjadi anggota KOBA cukup punya sepeda kuno tidak terpatok merek atau negara asal tertentu asal bentuknya harus khas onthel.

Secara resmi KOBA lahir 17 Agustus 2005 di Gedung Joang 45, Menteng, Jakarta Pusat. Saat deklarasi, komunitas ini anggotanya baru 75 orang. Cikal bakal komunitas onthel ini sebenarnya sudah ada sejak tahun 1992. Dari sembilan orang pecinta onthel yang tiap Minggu pagi berkumpul pukul 06.00-08.30 di pelataran Monas, namanya Perkumpulan Sepeda Tempo Doeloe Batavia, Silang Monas, mereka berkumpul sekedar untuk berolahraga. Sembilan orang ini menggenjot sepeda tuanya dari rumahnya masing-masing di Manggarai, Cakung, Tanah Abang, dan Fatmawati. Kegiatan saat kumpul-kumpul ini selain putar-putar sekitar Monas, ngobrol seputar pengalaman keseharian juga bertukar cerita tentang riwayat sepeda masing-masing.

Lambat laun dari sembilan orang ini bertambah terus dari generasi pensiunan sampai profesional muda yang masih aktif. Dari berbagai latar belakang profesi, seperti pegawai negeri sipil, pengacara, pengusaha, pensiunan polisi, wiraswasta, sampai mahasiswa, mereka membaur dalam satu wadah hobi merawat, mengendarai, hingga mengoleksi sepeda onthel tua. Jangkauannya pun meluas hingga Jabodetabek.

Ketua KOBA sekarang yakni Jhon al Fauzy (54) seorang pensiunan pekerja tambang. Menurut bang Jhon begitu ia akrab disapa, KOBA muncul untuk mewadahi keinginan beberapa orang pecinta onthel khususnya yang muda-muda untuk berkembang. Untuk itu orang perlu tahu keberadaan mereka. Karena kalau di dalam Monas tidak mudah dilihat orang, sebagian pindah ke Bundaran HI sampai sekarang. Lima sampai sepuluh sepeda yang di dalam Monas juga masih ada sampai sekarang.

Kegiatan KOBA semakin semarak. Selain sebagai penggembira di berbagai acara seperti pawai budaya. Mereka juga kerap mengadakan touring temu pecinta sepeda ke daerah lain, se Jawa-Bali. Sampai yang terakhir ini KOBA menghiasi video klip grup musik rock Slank.

Makin tua makin disayang

Mendapatkan sepeda onthel antik ini bukanlah perkara mudah. Karena sudah tidak diproduksi lagi. Apalagi kelengkapan asesoris sepeda dan spare part nya juga sudah sulit sekali ditemui, otomatis harganya cenderung selangit. Mencari kelengkapan sepeda yang langka juga merupakan keasikan tersendiri bagi para pecinta onthel antik. Biasanya mereka menggunakan jaringan pertemanan dan komunitas onthel di daerah lain supaya bisa mendapat harga “persaudaraan” yang pas.

Satu contoh, untuk sepeda merek Gazelle orisinil dan masih lengkap, dan tentunya semuanya masih berfungsi, di tangan kolektor harganya bisa mencapai Rp6 juta. Setara dengan harga sepeda motor bebek bekas tahun 2000an.

Berbagai sepeda telah hadir di masyarakat sejak akhir tahun 1800an. Tak lepas dari peran Belanda sejak jaman penjajahan dulu. Ada beberapa macam merek masuk ke Indonesia, dan masing-masing merek memiliki penggemar fanatik. Diantaranya merek Belanda ada Simplex, Fongers, Burgers, Gruno, Juncker, dan Gazelle. Merek Simplex dan Gazelle adalah dua merek populer dan paling dicari kolektor. Karena sejak jaman dulu sepeda ini biasa dipakai para bangsawan Belanda. Untuk Simplex diproduksi mulai tahun 1887 oleh Simplex automatic Machine Company di Utrect, Belanda. Sepeda onthel selain bikinan Belanda juga dicari kolektor seperti Raleigh buatan Inggris, Solingen buatan Jerman, dan merek-merek sepeda lain buatan Eropa.

Bagi pecinta onthel tua, naik sepeda onthel sudah menjadi bagian dari gaya hidup. Walaupun dipakai hanya sesekali saja. Sedikit yang memakai onthel untuk berangkat kerja sehari-hari. Maklum jalan raya di Jakarta tidak bersahabat bagi pengendara sepeda. Kebanyakan dari mereka memang menyimpan kenangan indah akan sepeda onthel. Bisa karena orang tua atau kakek neneknya dulu memiliki sejumlah sepeda onthel. Atau keinginan yang terpendam ketika dulu sering melihat kegagahan sepeda onthel yang melintas, tetapi belum bisa memilikinya. Nah, sekarang akhirnya terpenuhi.

Sepeda antik ibarat pakaian. Sepeda apa yang dipakai menaikkan gengsi yang mengendarai. Makin tua dan orisinil makin perlente. “Meskipun hal ini tidak terucap secara langsung antar anggota komunitas,” ucap Alam seorang wirausahawan muda, pengusaha katering di daerah Palmerah, Jakarta. Buat Alam hobi memiliki sepeda onthel ini punya dua misi, pertama untuk menyehatkan tubuhnya yang gemuk gempal agar tetap rajin berolahraga dengan mengayuh sepeda. Kedua untuk menambah luas jaringan pertemanannya sekalian berbisnis.

Sekalian berbisnis, karena komunitas ini bagi yang sudah kawakan, koleksi sepedanya bisa puluhan. Dan dari bermacam merek. Memiliki satu buah sepeda onthel saja rasanya belumlah cukup. Jenis sepeda onthel dianalogikan seperti sebuah keluarga, ada ayah, ibu dan anak-anak. Dari bentuk sepedanya saja, ada onthel jenis laki-laki (ditandai besi melintang horisontal antara setang dan sadel), onthel perempuan ( tak ada besi melintang), onthel anak-anak dan remaja (ukurannya lebih kecil dari onthel dewasa). Sehingga penggila onthel minimal paling tidak memiliki lima atau lebih sepeda onthel.

Asesoris sepeda onthel juga unik. Untuk lampu penerangan bentuknya disesuaikan, ada yang menggunakan lilin, berbahan bakar minyak, sampai menggunakan karbit, atau yang umum dipakai menggunakan dinamo sepeda. Yaitu motor listrik kecil yang ditempelkan pada roda sepeda. Bel sepedanya juga macam-macam, dari yang biasa berbunyi kring-kring sampai yang suaranya seperti terompet. Sirine sepeda juga ada, yang biasa dipakai oleh polisi bersepeda. Tetapi bunyinya tidak seperti sirine yang sekarang, malah seperti suara burung pipit tetapi nyaring sekali. Sepeda polisi jaman dulu ini juga dilengkapi mesin, lho.

Sepeda antik ini bisa menjadi semacam investasi. Kalau sedang butuh cepat dana segar, salah satu koleksi bisa dijual antar kawan pecinta onthel. Seperti Alam, ia memiliki puluhan sepeda onthel dari yang masih bangkai tak lengkap sampai yang lengkap dan orisinil. Kalau ada teman yang tertarik atau sedang butuh dana, ia rela melepas salah satu koleksinya. “Tapi tidak semua sepeda saya berharga mahal. Ada yang saya beli ratusan ribu saja,” ujarnya merendah. “Menjual sepeda antara kawan lazim dilakukan. Kolekdhol, istilahnya. Kolektor tapi bisa didhol (dari bahasa Jawa yang artinya dijual),” tutur bang Jhon yang punya 30an sepeda ini mengiyakan.

Teliti perlu biar tak ketipu

Simplex dan Gazelle adalah dua merek sepeda yang paling populer dan dicari. Bahkan dua merek sepeda ini kerap dibuat tiruannya. “Tidak semua orang mau jujur memberi tahu tips-nya, apalagi pedagang sepeda antik. Dengan bermacam alasan, seperti sulit, lah, tidak semua sepeda sama modelnya, macam-macam berkelitnya,” ujar Alam sambil geleng-geleng. Padahal kalau mau jujur, sebenarnya karena mereka tak mau tersaingi karena sama-sama ingin berburu barang yang asli tetapi murah.

Alam pernah tertipu saat membeli sepeda Gazelle pertama kali. Harganya, murah hanya Rp300 ribuan. Penampilan sepeda begitu mengecoh, apalagi waktu itu ia masih pemula, pasti tidak bisa membedakannya. Dari pengalaman, plus giat membaca literatur tentang sepeda tua akhirnya ia memiliki panduan sederhana selain mengandalkan intuisinya. Sekarang ia sudah memiliki sepeda Gazelle yang asli seri 11(nomor seri ada 6 digit diawali angka 11x.xxx sering disebut seri 11 untuk memudahkan) buatan tahun 1917. Sepeda bersejarah ini termasuk saksi keganasan tsunami di Aceh. Sepeda ini tubuhnya ada yang penyok di beberapa tempat. Dibeli Alam dari seorang kawannya yang relawan di Aceh. Waktu itu relawan ini membeli sepeda dengan harga murah untuk kendaraan operasionalnya. Sebagai kenangan ia membawanya ke Jakarta kondisi seadanya tidak lengkap dan akhirnya jatuh ke tangan Alam. “Sempat sepeda ini mau dibeli kembali, setelah sudah dilengkapi dan orisinil, tetapi tidak saya lepas” ucap Alam sambil tersenyum.

Sepeda Gazelle dari milik bang Jhon didapat dari seorang kawan di daerah Depok dalam kondisi rusak tak terawat, tergolong barang langka, karena termasuk sepeda orderan alias ukurannya dipesan sesuai tinggi pemakai. Dulunya bekas dipakai seorang pastur Belanda, sepedanya bernomer seri 6, posturnya tinggi gagah buatan tahun 1943. “Saya kalau berhenti harus cari trotoar dulu,” ujar bang Jhon malu-malu. Menurutnya, Gazelle sulit dipalsu karena hampir semua bagian sepeda ada nomer seri atau stempel gambar kijang lompat di lampu, velg, setang, gir depan, dan garpu depan. Ciri khas lain Gazelle bagian “paha belakang” sepeda dari atas ke bawah ukurannya mengecil. Saat dikendarai, kalau agak kencang mengayuhnya ban depan Gazelle seperti mau lompat-lompat bak kijang. Ringan dikendarai dan tidak mudah lelah meskipun jarak tempuhnya jauh.

Peredaran sepeda onthel antik biasanya berputar antar pecinta onthel antik juga. Komunitas pecinta onthel punya komitmen untuk menjaga sebisa mungkin sepeda onthel antik ini tidak keluar negeri. Pulang kembali ke negeri asalnya untuk dikoleksi kolektor asing. Namun, kini mereka saling berlomba dengan para pedagang barang antik.










Powered by ScribeFire.

Onthel

Sori, ini bukan ojek sepeda!

Kring…kring…kring…kring suara sepeda kumbang

Kring…kring…kring…kring Bung Kumis pun tersenyum…

Penggalan lagu Kring Kring yang dilantunkan Vina Panduwinata ini rasanya pas mengiringi sekumpulan pecinta sepeda onthel kuno yang sedang asik kongkow-kongkow di seputaran Bundaran Hotel Indonesia, di Minggu pagi.

Dengan berkostum unik dan nyentrik, diantaranya ada yang berdandan ala kedaerahan berbaju surjan bertopi blangkon, berseragam pejuang ala jaman tahun 45, juga ada yang bergaya petani, guru, mandor tebu dan lain-lain. Mereka bebas memilih perannya. Seakan-akan waktu mundur sebentar ke masa tempoe doeloe.

Sebelum ada kendaraan bermotor, sepeda onthel ini merupakan simbol kemewahan. Bahkan sepeda sangat berjasa menjadi andalan dan berperan penting untuk membantu pekerjaan sehari-hari. Para mandor atau tuan tanah jaman kolonial Belanda, jika berkeliling, mengendarai sepeda onthel untuk mengecek hasil kerja para anak buahnya. Bahkan untuk melancong ataupun pelesiran bersama kekasih pun, rasanya bangga sekali naik sepeda onthel.

Sekarang justru berbalik, sepeda onthel menjadi simbol kesederhaan. Di Jakarta saja, sepeda onthel menjadi kendaran operasional ojek sepeda yang masih kerap dijumpai di daerah Stasiun Kereta Api Kota, Beos, atau Terminal Tanjung Priuk, Jakarta Utara. Termasuk menjadi kendaraan operasional tukang siomay keliling. Sepeda onthel yang pada boncengannya dipasangi panci blirik atau dandang alumunium berbentuk kerucut khas untuk dagang siomay.

Siapa pun boleh ikut

Tetapi beberapa orang yang berkumpul setiap Minggu pagi di seputaran Bundaran HI ini jelas bukan tukang ojek atau tukang siomay. Bermacam kostum yang mereka pakai termasuk merek sepeda yang mereka pakai sudah mencirikan siapa mereka yaitu Komunitas Onthel Batavia disingkat KOBA. Anggota KOBA yang tercatat sekarang sekitar 250an orang. Sedangkan yang rutin yang datang ke Bundaran HI setiap Minggu pagi kurang lebih ada 170 sepeda yang berjejer. Mereka tidak dipungut iuran meskipun ada presensi. Siapapun boleh ikut. Syarat menjadi anggota KOBA cukup punya sepeda kuno tidak terpatok merek atau negara asal tertentu asal bentuknya harus khas onthel.

Secara resmi KOBA lahir 17 Agustus 2005 di Gedung Joang 45, Menteng, Jakarta Pusat. Saat deklarasi, komunitas ini anggotanya baru 75 orang. Cikal bakal komunitas onthel ini sebenarnya sudah ada sejak tahun 1992. Dari sembilan orang pecinta onthel yang tiap Minggu pagi berkumpul pukul 06.00-08.30 di pelataran Monas, namanya Perkumpulan Sepeda Tempo Doeloe Batavia, Silang Monas, mereka berkumpul sekedar untuk berolahraga. Sembilan orang ini menggenjot sepeda tuanya dari rumahnya masing-masing di Manggarai, Cakung, Tanah Abang, dan Fatmawati. Kegiatan saat kumpul-kumpul ini selain putar-putar sekitar Monas, ngobrol seputar pengalaman keseharian juga bertukar cerita tentang riwayat sepeda masing-masing.

Lambat laun dari sembilan orang ini bertambah terus dari generasi pensiunan sampai profesional muda yang masih aktif. Dari berbagai latar belakang profesi, seperti pegawai negeri sipil, pengacara, pengusaha, pensiunan polisi, wiraswasta, sampai mahasiswa, mereka membaur dalam satu wadah hobi merawat, mengendarai, hingga mengoleksi sepeda onthel tua. Jangkauannya pun meluas hingga Jabodetabek.

Ketua KOBA sekarang yakni Jhon al Fauzy (54) seorang pensiunan pekerja tambang. Menurut bang Jhon begitu ia akrab disapa, KOBA muncul untuk mewadahi keinginan beberapa orang pecinta onthel khususnya yang muda-muda untuk berkembang. Untuk itu orang perlu tahu keberadaan mereka. Karena kalau di dalam Monas tidak mudah dilihat orang, sebagian pindah ke Bundaran HI sampai sekarang. Lima sampai sepuluh sepeda yang di dalam Monas juga masih ada sampai sekarang.

Kegiatan KOBA semakin semarak. Selain sebagai penggembira di berbagai acara seperti pawai budaya. Mereka juga kerap mengadakan touring temu pecinta sepeda ke daerah lain, se Jawa-Bali. Sampai yang terakhir ini KOBA menghiasi video klip grup musik rock Slank.

Makin tua makin disayang

Mendapatkan sepeda onthel antik ini bukanlah perkara mudah. Karena sudah tidak diproduksi lagi. Apalagi kelengkapan asesoris sepeda dan spare part nya juga sudah sulit sekali ditemui, otomatis harganya cenderung selangit. Mencari kelengkapan sepeda yang langka juga merupakan keasikan tersendiri bagi para pecinta onthel antik. Biasanya mereka menggunakan jaringan pertemanan dan komunitas onthel di daerah lain supaya bisa mendapat harga “persaudaraan” yang pas.

Satu contoh, untuk sepeda merek Gazelle orisinil dan masih lengkap, dan tentunya semuanya masih berfungsi, di tangan kolektor harganya bisa mencapai Rp6 juta. Setara dengan harga sepeda motor bebek bekas tahun 2000an.

Berbagai sepeda telah hadir di masyarakat sejak akhir tahun 1800an. Tak lepas dari peran Belanda sejak jaman penjajahan dulu. Ada beberapa macam merek masuk ke Indonesia, dan masing-masing merek memiliki penggemar fanatik. Diantaranya merek Belanda ada Simplex, Fongers, Burgers, Gruno, Juncker, dan Gazelle. Merek Simplex dan Gazelle adalah dua merek populer dan paling dicari kolektor. Karena sejak jaman dulu sepeda ini biasa dipakai para bangsawan Belanda. Untuk Simplex diproduksi mulai tahun 1887 oleh Simplex automatic Machine Company di Utrect, Belanda. Sepeda onthel selain bikinan Belanda juga dicari kolektor seperti Raleigh buatan Inggris, Solingen buatan Jerman, dan merek-merek sepeda lain buatan Eropa.

Bagi pecinta onthel tua, naik sepeda onthel sudah menjadi bagian dari gaya hidup. Walaupun dipakai hanya sesekali saja. Sedikit yang memakai onthel untuk berangkat kerja sehari-hari. Maklum jalan raya di Jakarta tidak bersahabat bagi pengendara sepeda. Kebanyakan dari mereka memang menyimpan kenangan indah akan sepeda onthel. Bisa karena orang tua atau kakek neneknya dulu memiliki sejumlah sepeda onthel. Atau keinginan yang terpendam ketika dulu sering melihat kegagahan sepeda onthel yang melintas, tetapi belum bisa memilikinya. Nah, sekarang akhirnya terpenuhi.

Sepeda antik ibarat pakaian. Sepeda apa yang dipakai menaikkan gengsi yang mengendarai. Makin tua dan orisinil makin perlente. “Meskipun hal ini tidak terucap secara langsung antar anggota komunitas,” ucap Alam seorang wirausahawan muda, pengusaha katering di daerah Palmerah, Jakarta. Buat Alam hobi memiliki sepeda onthel ini punya dua misi, pertama untuk menyehatkan tubuhnya yang gemuk gempal agar tetap rajin berolahraga dengan mengayuh sepeda. Kedua untuk menambah luas jaringan pertemanannya sekalian berbisnis.

Sekalian berbisnis, karena komunitas ini bagi yang sudah kawakan, koleksi sepedanya bisa puluhan. Dan dari bermacam merek. Memiliki satu buah sepeda onthel saja rasanya belumlah cukup. Jenis sepeda onthel dianalogikan seperti sebuah keluarga, ada ayah, ibu dan anak-anak. Dari bentuk sepedanya saja, ada onthel jenis laki-laki (ditandai besi melintang horisontal antara setang dan sadel), onthel perempuan ( tak ada besi melintang), onthel anak-anak dan remaja (ukurannya lebih kecil dari onthel dewasa). Sehingga penggila onthel minimal paling tidak memiliki lima atau lebih sepeda onthel.

Asesoris sepeda onthel juga unik. Untuk lampu penerangan bentuknya disesuaikan, ada yang menggunakan lilin, berbahan bakar minyak, sampai menggunakan karbit, atau yang umum dipakai menggunakan dinamo sepeda. Yaitu motor listrik kecil yang ditempelkan pada roda sepeda. Bel sepedanya juga macam-macam, dari yang biasa berbunyi kring-kring sampai yang suaranya seperti terompet. Sirine sepeda juga ada, yang biasa dipakai oleh polisi bersepeda. Tetapi bunyinya tidak seperti sirine yang sekarang, malah seperti suara burung pipit tetapi nyaring sekali. Sepeda polisi jaman dulu ini juga dilengkapi mesin, lho.

Sepeda antik ini bisa menjadi semacam investasi. Kalau sedang butuh cepat dana segar, salah satu koleksi bisa dijual antar kawan pecinta onthel. Seperti Alam, ia memiliki puluhan sepeda onthel dari yang masih bangkai tak lengkap sampai yang lengkap dan orisinil. Kalau ada teman yang tertarik atau sedang butuh dana, ia rela melepas salah satu koleksinya. “Tapi tidak semua sepeda saya berharga mahal. Ada yang saya beli ratusan ribu saja,” ujarnya merendah. “Menjual sepeda antara kawan lazim dilakukan. Kolekdhol, istilahnya. Kolektor tapi bisa didhol (dari bahasa Jawa yang artinya dijual),” tutur bang Jhon yang punya 30an sepeda ini mengiyakan.

Teliti perlu biar tak ketipu

Simplex dan Gazelle adalah dua merek sepeda yang paling populer dan dicari. Bahkan dua merek sepeda ini kerap dibuat tiruannya. “Tidak semua orang mau jujur memberi tahu tips-nya, apalagi pedagang sepeda antik. Dengan bermacam alasan, seperti sulit, lah, tidak semua sepeda sama modelnya, macam-macam berkelitnya,” ujar Alam sambil geleng-geleng. Padahal kalau mau jujur, sebenarnya karena mereka tak mau tersaingi karena sama-sama ingin berburu barang yang asli tetapi murah.

Alam pernah tertipu saat membeli sepeda Gazelle pertama kali. Harganya, murah hanya Rp300 ribuan. Penampilan sepeda begitu mengecoh, apalagi waktu itu ia masih pemula, pasti tidak bisa membedakannya. Dari pengalaman, plus giat membaca literatur tentang sepeda tua akhirnya ia memiliki panduan sederhana selain mengandalkan intuisinya. Sekarang ia sudah memiliki sepeda Gazelle yang asli seri 11(nomor seri ada 6 digit diawali angka 11x.xxx sering disebut seri 11 untuk memudahkan) buatan tahun 1917. Sepeda bersejarah ini termasuk saksi keganasan tsunami di Aceh. Sepeda ini tubuhnya ada yang penyok di beberapa tempat. Dibeli Alam dari seorang kawannya yang relawan di Aceh. Waktu itu relawan ini membeli sepeda dengan harga murah untuk kendaraan operasionalnya. Sebagai kenangan ia membawanya ke Jakarta kondisi seadanya tidak lengkap dan akhirnya jatuh ke tangan Alam. “Sempat sepeda ini mau dibeli kembali, setelah sudah dilengkapi dan orisinil, tetapi tidak saya lepas” ucap Alam sambil tersenyum.

Sepeda Gazelle dari milik bang Jhon didapat dari seorang kawan di daerah Depok dalam kondisi rusak tak terawat, tergolong barang langka, karena termasuk sepeda orderan alias ukurannya dipesan sesuai tinggi pemakai. Dulunya bekas dipakai seorang pastur Belanda, sepedanya bernomer seri 6, posturnya tinggi gagah buatan tahun 1943. “Saya kalau berhenti harus cari trotoar dulu,” ujar bang Jhon malu-malu. Menurutnya, Gazelle sulit dipalsu karena hampir semua bagian sepeda ada nomer seri atau stempel gambar kijang lompat di lampu, velg, setang, gir depan, dan garpu depan. Ciri khas lain Gazelle bagian “paha belakang” sepeda dari atas ke bawah ukurannya mengecil. Saat dikendarai, kalau agak kencang mengayuhnya ban depan Gazelle seperti mau lompat-lompat bak kijang. Ringan dikendarai dan tidak mudah lelah meskipun jarak tempuhnya jauh.

Peredaran sepeda onthel antik biasanya berputar antar pecinta onthel antik juga. Komunitas pecinta onthel punya komitmen untuk menjaga sebisa mungkin sepeda onthel antik ini tidak keluar negeri. Pulang kembali ke negeri asalnya untuk dikoleksi kolektor asing. Namun, kini mereka saling berlomba dengan para pedagang barang antik.