Thursday, March 1, 2007

Iridiologi


Di Matamu Kulihat Penyakit
Oleh: A. Bimo Wijoseno




Mata adalah jendela hati, sekaligus indera untuk menikmati indahnya dunia. Namun, bagi dr. Asdi Yudiono, semua kegunaan itu masih kurang. Bagi dia, mata bisa digunakan untuk mendukung profesinya sebagai dokter, yaitu untuk “meramal” beragam penyakit yang berpotensi menyerang tubuh. Bagaimana bentuk "ramalannya"?
=====
Melihat cara kerja dr. Asdi Yudiono, Anda barangkali akan menyangka, dokter muda ini dokter spesialis mata. Soalnya, ia lebih banyak meneliti penyakit pasiennya lewat indera penglihatan.
Namun, sumpah mati, dr. Asdi bukan dokter mata. Ia seorang dokter umum. Bedanya dengan dokter umum lain ialah penguasaannya yang baik terhadap iridiologi. Berkat ilmu yang didalaminya selama bertahun-tahun itu, ia dapat mendeteksi secara dini beragam penyakit yang akan menimpa seorang pasien, cukup lewat gambaran iris mata.
Meski begitu, menurut dia, sebenarnya iridiologi tidak pernah dibahas dalam ilmu kedokteran. Ia hanyalah salah satu bentuk ilmu kedokteran alternatif yang bersifat preventif atau pencegahan, yang menggunakan pola, warna, dan keadaan fisik dari iris mata, untuk memberikan informasi tentang beragam penyakit yang mungkin ada di dalam diri si pemilik iris mata.
Dari hasil pengamatan itu, diharapkan penyakit dapat ditangkal sejak masih berstatus "gejala", sehingga tidak merepotkan penderita di kemudian hari, atau mencapai tahap parah. Satu lagi informasi yang perlu diingat, ilmu “ramal-meramal” lewat media iris mata ini lepas dari ilmu kedokteran mata. Karena itu, jangan sebut pula dr. Asdi sebagai dokter mata.

Menelusuri sumber
Iridiologi yang dipraktikkan dr. Asdi dalam meramal penyakit pasiennya kira-kira mirip seperti bola kristal yang dimanfaatkan para peramal nasib untuk melihat masa depan seseorang. Namun, berbeda dengan bola kristal, iridiologi yang diterapkannya tentu saja jauh lebih didasarkan pada standar-standar ilmiah.
Iridiologi bahkan bukan sekadar ilmu untuk meramal penyakit. "Keluhan yang sedang dialami pasien, misalnya, bisa juga ditelusuri lewat iridiologi ini,” jelas dr. Asdi. Menurut dia, penyakit seseorang bisa dilihat dari tanda-tanda yang tergambar dalam iris matanya. Ia meyakini, kondisi semua organ tubuh berhubungan langsung dan tersurat di dalam iris mata.
Ilmu ini pertama kali dikembangkan secara ilmiah oleh dr. Ignatz von Peczely (1826 - 1911), seorang dokter asal Hongaria. Secara tak sengaja, Peczely menemukan ilmu ini dari burung peliharaannya yang mengalami patah kaki. Ia melihat, di bagian bawah iris mata si burung terdapat seberkas garis hitam. Burung itu ia rawat dan akhirnya sembuh. Ketika sembuh, bercak hitam pada mata burung ternyata ikut menghilang.
Pada tahun 1950-an, iridiologi berkembang di Amerika, Eropa, dan Cina. Perkembangannya semakin pesat setelah Bernard Jensen membuat bagan iridiologi yang masih digunakan sampai sekarang.
Berdasarkan bagan itu, Jensen membagi iris mata atas beberapa bagian. Bagian atas mewakili otak, bagian bawah mewakili kaki dan organ reproduksi. Sedangkan iris kanan mewakili organ tubuh bagian kanan, iris kiri tentu saja mewakili organ tubuh bagian kiri. Lambung dan pencernaan direpresentasikan oleh daerah yang mengelilingi pupil mata pada iris.
Mudahnya, iris mata itu lingkaran hitam pada bola mata kita. Secara sekilas, organ mata ini cuma tampak berwarna hitam. Padahal sebenarnya, jika dilihat lebih detail, si hitam satu ini warnanya merah, mirip warna daging segar.
Untuk keperluan pemeriksaan, dr. Asdi lazimnya menggunakan kamera digital, monitor teve, dan lampu. Fungsi kamera digital untuk memotret iris mata pasien. Proses pemotretan tak berbeda dengan proses pemeriksaan iris mata oleh dokter mata. Dagu pasien diletakkan pada sebuah sandaran sehingga iris mata bisa tepat berada di lensa kamera digital yang digunakan untuk memotret. Setelah pas, baru dijepret. Pret!
Supaya gambar dari hasil pemotretan mudah dianalisis, kamera tersambung ke layar televisi. Gambar iris mata itu pun tampak dengan lebih besar di layar gelas. Pada gambar itu jelas sekali terlihat mulai dari garis-garis sampai pembuluh darah pada bola mata. “Kalau tidak punya kamera digital, dilihat langsung dengan kaca pembesar pun bisa. Tetapi kurang praktis, dan hanya si pemeriksa yang bisa melihat,” ujar dr. Asdi.
Gambar di layar teve akan menuntun dr. Asdi pada beragam kelainan. Misalnya, kelainan akut yang ditandai dengan munculnya tanda atau warna keputihan seperti kabut di iris mata. Hal itu menandakan sedang terjadi peradangan. Sedangkan kelainan subakut ditandai dengan munculnya warna abu-abu. Atau kelainan degeneratif, ditandai dengan warna hitam. Yang terakhir ini menunjukkan kelainan berat dan ada kemungkinan sulit untuk diperbaiki.
Lantas, bagaimana kita bisa tahu suatu organ tubuh sedang mengalami gangguan? Kalau gambar mata tadi disesuaikan dengan atlas atau bagan iridiologi, ia akan langsung “berbicara”. Contohnya, jika posisi bercak hitam ada di lokasi kaki pada iris mata, ya kemungkinan masalahnya ada di kaki.
“Biasanya, saya tidak langsung memvonis pasien. Jika ada bercak hitam di (bagian iris mata yang menunjukkan organ) jantung, Anda pasti sakit jantung. Tidak demikian,” ujar dr. Asdi. Ia akan mengungkapkannya dalam bahasa yang lain, yakni ada sesuatu yang akan mengganggu organ tubuh Anda atau ada kelemahan di organ itu, sehingga mulai sekarang mesti lebih berhati-hati.”
Lebih lanjut, dr. Asdi menjelaskan, gambaran yang ada pada mata adalah sebuah gambaran objektif. “Kalau mau didiamkan, mungkin juga tidak akan terjadi apa-apa. Namun, selalu ada kemungkinan terjadi sesuatu pada organ yang bersangkutan, entah kapan. Bercak hitam itu merupakan sinyal atau “peringatan” dari organ. Itu sebabnya perlu diperhatikan,” tuturnya serius.
Warna hitam, kelabu, dan putih pada iris mata sendiri sifatnya tidak statis. Perubahan warna menjadi lebih terang dan berwarna cerah pada iris menunjukkan adanya perbaikan organ. Sedangkan jika warna semakin gelap, itu menunjukkan kelainan yang terjadi semakin bertambah parah atau membahayakan. Perlu ekstra perhatian, bahkan tindakan pencegahan.

Endapan racun
Bukan hanya menandai kemungkinan datang dan perginya penyakit di organ tertentu. Iridiologi juga dapat memberikan gambaran adanya endapan toksin atau racun di dalam tubuh. Biasanya ditandai dengan terdapatnya warna oranye atau kuning, sebagai tanda adanya endapan racun di lokasi tertentu pada bagian tubuh.
Diramal dengan metode iridiologi versi dr. Asdi tidak ada ruginya. Sebab, proses diagnosis model ini tidak invasif dan tidak ada organ tubuh yang diotak-atik. Pasien hanya akan merasa sedikit silau akibat munculnya sinar lampu kamera saat pemotretan.
Dr. Asdi akan cepat mengetahui ketidakseimbangan dan kelemahan tubuh sebelum berkembang ke arah yang lebih gawat. Uniknya, ia tidak serta serta menyarankan pasien menenggak obat buatannya. Sebab, tidak semua keluhan pasien dapat dibereskan dengan obat. Bisa saja, pasien hanya disarankan melakukan diet khusus, banyak minum air putih, atau olahraga sesuai dengan kebutuhan. Bahkan, cukup dengan nasihat untuk memperbaiki kesehatan pasien. “Kalau memang butuh obat, baru saya beri (resep) obat,” cetusnya.
Lewat iridiologi, dr. Asdi mengingatkan pasien untuk berjaga-jaga dan selalu memperhatikan kesehatan badannya. “Saya membantu orang yang tidak tahu tentang organ tubuhnya, supaya mengerti dan sadar apa yang mesti dilakukan. Contohnya, ada orang yang merasa terus-menerus capek, kepalanya kerap pusing. Setelah diteliti, rupanya ada kelemahan pada pencernaannya,” sambung sang dokter.
Omong-omong, bagaimana sih ciri iris mata orang sehat? “Kalau orang sehat walafiat, kedua iris matanya berwarna merah daging segar dan bersih, tidak ada bercak apa pun,” jelasnya.
Meskipun tahu macam-macam penyebab penyakit pasiennya, Asdi tidak berpikir untuk menangani semua penyakit. “Kalau bukan bidangnya, tidak saya kerjakan langsung. Saya sarankan untuk mengunjungi ahlinya. Misalnya, ke dokter spesialis kandungan kalau masalahnya soal kandungan dan reproduksi,” jelas ayah dari empat orang putra ini. Dr. Asdi juga menganjurkan pasiennya agar tetap melakukan pemeriksaan kedokteran standar yang berlaku saat ini, seperti CT scan, USG, rontgen, pemeriksaan laboratorium klinik, ECG, dan sebagainya.
Pemeriksaan-pemeriksaan itu penting untuk memantau kelainan organ secara lebih spesifik pada organ-organ khusus yang sedang mengalami gangguan. Iridiologi belum bisa secara spesifik dan detail memeriksa organ tertentu. Boleh dibilang, inilah yang membedakan aksi “ramal-meramal” dr. Asdi dengan peramal ala bola kristal, karena ia tetap berpijak pada dasar-dasar ilmu kedokteran.

Boks
Berawal Dari Multilevel Marketing

Dr. Asdi mengaku belajar iridiologi secara otodidak. Ilmu ini pertama kali ia kenal lewat seorang dokter senior. Lama-kelamaan, ia mulai tertarik untuk menekuni ilmu barunya ini. Di tahun 1998, ia membeli alat-alat penunjang iridiologi seharga Rp 4,9 juta, berupa kamera digital, pesawat teve, dan printer.
Konon, awalnya, iridiologi yang dia pelajari dipakai untuk mendukung penjualan obat-obatan yang dipasarkan sebuah perusahaan multilevel marketing.
Dokter seniornya bahkan ikut mempengaruhinya, agar bersedia masuk dalam jaringan multilevel marketing itu. Namun, Asdi bersikukuh hanya tertarik pada iridiologinya. Kini, berbekal pengetahuan iridiologinya, ia membuka klinik di rumahnya, di daerah Pakualaman, Yogyakarta. Untuk setiap pemeriksaan, ia hanya memasang tarif Rp 40.000,-.
Tertarik mencoba?


1 comment:

Wiwin said...

Kemarin Sabtu 10 Jan 2009 kami sudah mencobanya, malahan secara kebetulan karena awalnya hanya pengin berobat aja :-). Bersyukur Allah swt kasih petunjuk untuk bertemu dr. Asdi dan diperiksa lewat iridologi.